Kamis, 26 Februari 2009


Apakah “penelitian” itu??

Kita sering mendengar orang-orang disekitar kita menyebut kata “penelitian”. Sebenarnya apa sih penelitian itu??. St. Y. Slamet dan Suwarto, WA (2007:21) menjawab bahwa “pada prinsipnya penelitian itu merupakan wahana untuk menemukan suatu kebenaran”. Usaha untuk mengetahui kebenaran dilakukan oleh para peneliti melalui model-model tertentu. Model-model tersebut dikenal dengan istilah paradigma. Paradigma ada dua macam, yaitu paradigma ilmiah yang bersumber dari pandangan positivisme dan paradigma alamiah yang bersumber pada pandangan fenomenologis (naturalisme).
Ada berapa macam bentuk penelitian??!. Berdasarkan kedua paradigma di atas bentuk penelitian ada 2 (dua) macam, yaitu:
1.    Penelitian Kuantitatif yang didasarkan pada paradigma positivisme, dan
2.    Penelitian Kualitatif yang didasarkan pada paradigma naturalisme (Alamiah)
Sedangkan cara yang digunakan untuk menemukan kebenaran tersebut dibagi menjadi beberapa metode, antara lain metode eksperimen, deskriptif, dan historik. Sesuai dengan pendapat Winarno Surakhmad (1994:29) yang mengemukakan bahwa “jenis-jenis metode penelitian dikelompokkan dalam 3 kategori, yaitu metode penelitian historik, deskriptif, dan eksperimental”.
Pemilihan metode yang digunakan untuk menemukan kebenaran sangat berpengaruh terhadap teknik pengumpulan data yang tepat yang akan digunakan dalam suatu penelitian. Mills dalam bukunya Herawati Susilo, dkk (2008: 59) menyatakan bahwa ”Dari segi teknik pengumpulan data kualitatifnya, ada 3 teknik yang dapat dipilih  oleh  peneliti  untuk  mengumpulkan  data  yang  disebut  sebagai 3 E (Experienceing, Enquiring, dan Examining )”. Experienceing yaitu pengumpulan data melelui pengalaman sendiri. Enquiring yaitu teknik pengumpulan data melelui pertanyaan oleh peneliti. Examining yaitu teknik pengumpulan data melalui pembuatan dan pemanfaatan catatan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa teknik pengumpulan data kualitatif dapat diperoleh melalui kegiatan observasi, wawancara dan dokumentasi/arsip.

How important of Math....


  Kenapa matematika itu penting??,, coba saja kita perhatikan sekitar kita!!. Ketika kita melangkah keluar rumah untuk maen, jalan, hang out dan sebagainya..Hanya sekedar untuk jalan misalnya, berapa langkah kita dari rumah sampai warung dekat rumah kita untuk beli sarapan misalnya..sudah berapa orang yang kita jumpai?, atau berapa rumah yang kita lewati?, berapa banyak uang yang kita habiskan??, untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu kita sudah masuk dalam slah satu kajian ilmu matematika. Jackson (1992:756) mengemukakan pentingnya matematika bagi kehidupan manusia di masyarakat. Ia menyatakan bahwa ““matematika adalah penting bagi kehidupan masyarakat”. Itulah alasan mengapa matematika selalu dipelajari di berbagai jenjang pendidikan. Bahkan pada pendidikan usia dini (PAUD) matematika juga sudah dikenalkan pada anak-anak. Begitu pula di tingkat pendidikan tinggi, di perguruan tinggi pun matematika juga masih tetap dipelajari. Hanya bedanya materinya disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kematangan siswa (yang mempelajarinya).

Apa sih sebenarnya matematika itu???, menurut kamus wikipedia.com  “Matematika (dari bahasa Yunani: μαθηματικά - mathÄ“matiká) adalah studi besaran, struktur, ruang, relasi, perubahan, dan beraneka topik pola, bentuk, dan entitas”. Sedangkan Jackson (1992:750) mengemukakan bahwa “Matematika juga dipandang sebagai suatu bahasa, struktur logika, batang tubuh dari bilangan dan ruang, rangkaian metode untuk menarik kesimpulan, esensi ilmu terhadap dunia fisik, dan sebagai aktivitas intelektual. Pelajaran matematika sudah mengalami regenerasi, bukan pada kemasan materi yang dipelajari tapi dari segi penamaan. Dulu kita pernah mendengar mata pelajaran berhitung kan??, itu merupakan nama lain dari mata pelajaran matematika. Hanya saja mata pelajaran berhitung lebih spesifik, tidak seperti mata pelajaran matematika yang kita kenal sekarang dimana materinya sangat luas dan beragam.
Di Amerika mata pelajaran ini juga mengalami pembaharuan lho...Lerner (1998:435) mengemukakan bahwa:
“di Amerika Serikat sendiri telah muncul gerakan ketrampilan dasar (basic skills movement) yang mencerminkan kekecewaan terhadap matematika modern dan mengusulkan agar lebih menekankan pada keterampilan menghitung. Gerakan back to basics mengusulkan agar kembali menekankan pada pengajaran komputasi matematika”. Lebih lanjut ia juga mengemukakan bahwa Dewan nasional untuk pengajaran matematika di Amerika Serikat mengusulkan agar kurikulum matematika mencakup 10 keterampilan dasar sebagai berikut :
1)      Pemecahan masalah
2)      Penerapan matematika dalam situasi kehidupan sehari-hari
3)      Ketajaman perhatian terhadap kelayakan hasil
4)      Perkiraan
5)      Keterampilan perhitungan yang sesuai
6)      Geometri
7)      Pengukuran
8)      Membaca, menginterpretasikan, membuat tabel, cart dan grafik
9)      Menggunakan matematika untuk meramalkan dan
10)  Melek komputer (Computer literacy)
 Menurut Lerner (1998:447) ada empat pendekatan yang paling berpengaruh dalam pengajaran matematika yaitu :
1)   Urutan belajar yang bersifat perkembangan (development learning sequences),
2)   Belajar tuntas (mastery learning),
3)   Strategi belajar (learning strategyes),
4)   Pemecahan masalah (problem solving).

Rabu, 04 Februari 2009

Title: Pembelajaran Kooperatif/ Cooperative Learning



Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang cukup digemari oleh para guru untuk menyampaikan materi ajar. Diskusi kelompok misalnya. Model pembelajaran kooperatif bukanlah hal yang baru di dunia pendidikan. Apa sih sebenarnya pengertiannya??, pada prinsipnya pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran berbasis sosial yang mengutamakan kerjasama diantara para siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran secara bersama-sama. Dimana dalam model pembelajaran ini subjek utamanya adalah siswa, guru hanya bertindak sebagai fasilitator.


Sedangkan tujuan utama dari model pembelajaran ini pada dasarnya sama dengan model-model pembelajaran lainnya yaitu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan oleh guru. Dimana materi yang ia sampaikan dapat 100% diterima dan dimengerti oleh siswa. Namun, disamping tujuan secara akademik tersebut pembelajaran kooperatif juga mempunyai tujuan lain sesuai dengan basisnya yaitu “sosial”. Mulyasa (2004) mengemukakan setidaknya 3 tujuan pokok dari pembelajaran kooperatif yaitu: hasil akademik, penerimaan terhadap perbedaan individu dalam kelompok, dan pengembangan keterampilan sosial. Pendapat lain dikemukakan oleh Ibrahim, dkk (2000:7-8) yang mengemukakan bahwa model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-­tidaknya tiga tujuan pembelajaran yang diuraikan sebagai berikut:
1)    Meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit.
2)    Penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, maupun ketidakmampuan. Mengajarkan untuk saling menghargai satu sama lain.
3)    Mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini penting karena banyak anak muda dan orang dewasa masih kurang dalam keterampilan sosial.








"time is running out, don't waste your time"

Education "Thing"


 

Part 1
Title: Keaktifan


Keaktifan berasal dari bahasa inggris “activity” yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia mempunyai arti “aktivitas”. Aktivitas merupakan segala bentuk tindakan/kegiatan. Sesuai dengan pendapat Anton M. Mulyono (2001:26) yang menyatakan bahwa “aktivitas artinya kegiatan/ keaktifan”. Senada dengan pendapat Echols (1990:10) mengemukakan bahwa “aktivitas (yang berasal dari bahasa Inggris actifity) sebagai suatu kegiatan.

Dalam dunia pendidikan, khususnya pembelajaran di kelas keaktifan siswa merupakan salah satu unsur penunjang terwujudnya pembelajaran yang berhasil, efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran.  Manfaat adanya aktivitas siswa dalam pembelajaran menurut Wulf (1996:72) adalah:
a)    Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara siswa dengan guru atau instruktur.
b)   Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja.
c)    Menjangkau siswa dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience).

Pembelajaran dikatakan mengaktifkan siswa jika para siswa dilibatkan secara penuh dalam proses pembelajaran baik dari aspek IQ,EQ dan SQ. Nana Sudjana (1991:61) mengemukakan bahwa “keaktifan siswa dlam kegiatan pembelajaran dapat dilihat dalam hal (1) siswa turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya; (2) siswa terlibat dalam pemecahan permasalahan; (3) siswa bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya; (4) siswa berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah; (5) siswa melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru; (6) siswa menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya; (7) siswa melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah sejenis;(8) siswa diberi kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya”. Selain itu Oemar Hamalik (2001:144-146) juga mengemukakan pendapatnya bahwa penyelenggaraan pembelajaran CBSA ditandai oleh indikator-indikator sebagai berikut:
a)      Derajat partisipasi dan responsif siswa yang tinggi.
b)      Keterlibatan siswa dalam pelaksanaan/pembuatan tugas.
c)       Peningkatan kadar CBSA dalam proses pembelajaran juga ditentukan oleh faktor guru.
d)      Pendekatan CBSA dapat diterapkan pada semua strategi dan metode mengajar, walaupun kadarnya berbeda-beda.
e)      Penyediaan media dan peralatan serta berbagai fasilitas belajar tetap diperlukan, agar tercipta lingkungan belajar yang menantang dan merangsang serta meningkatkan kegiatan belajar siswa.
f)       Diperlukan adanya bimbingan dan pembelajaran remedial pada waktu tertentu. Karena tak jarang keaktifan siswa berdasarkan CBSA menimbulkan kesulitan belajar.
g)      Pengaturan dan pembinaan kondisi lingkungan kelas/sekolah perlu mendapat perhatian, juga suasana disiplin kelas yang baik.

Keaktifan siswa dapat terwujud jika kondisi siswa juga mendukung dan memungkinkan dirinya untuk melakukan berbagai kegiatan-kegiatan di kelas. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keaktifan siswa di dalam kelas. Faktor yang mempengaruhi keaktifan siswa di dalam kelas pada dasarnya dibagi menjadi 2, yaitu: faktor internal dan eksternal. Faktor internal berkaitan dengan individu siswa, sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar individu.
Suryabrata (1990:249) menguraikan faktor-faktor tersebut sebagai berikut:
1)      Faktor Internal
a)      Faktor Fisiologis
Faktor fisiologis berkaitan dengan fisik anak. Seorang anak kadang kala keaktifan belajarnya terlambat karena keadaan jasmani yang kurang sempurna, misalnya seorang anak yang mengalami cacat tubuh.
b)      Faktor Psikologis
Faktor psikologis meliputi intelegensi, keaktifan/kelincahan anak, dan kesiapan.
2)      Faktor Eksternal
a)      Faktor keluarga
Cara orang tua mendidik anaknya berbeda-beda, setidaknya ada dua teori yaitu: mendidik secara demokratis dan otoriter. Di dalam pergaulan di lingkungan keluarga hendaknya berubah menjadi situasi pendidikan, yaitu orang tua memperhatikan anak, misalnya anak ditegur jika salah dan diberi pujian jika mereka benar.
b)      Faktor sekolah
Faktor yang berasal dari sekolah, dapat berasal dari guru (khususnya kepribadian & kemampuan mengajarnya), mata pelajaran, dan metode yang diterapkan. Anak terkadang cenderung hanya aktif selama mata pelajaran tersbut merupakan mata pelajaran yang ia sukai. Begitu juga metode dan model mengajar yang digunakan guru.
c)       Faktor Masyarakat
Pengaruh masyarakat terhadap keaktifan belajar siswa dapat kita lihat pada
kenyataan sehari-hari dimana seorang anak banyak dipengaruhi oleh sejumlah kegiatan/organisasi yang diikuti dalam hidup bermasyarakat.
 




 
"Usaha tanpa doa itu lemah, doa tanpa usaha imposible"














pic by SE Naite '09